Fahri Hamzah ungkap kepentingan Amerika dalam konflik Israel-Palestina

REPORTED BY: Insan Praditya

Fahri Hamzah ungkap kepentingan Amerika dalam konflik Israel-Palestina Perjuangan Palestina menghadapi Israel

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah berpendapat bahwa dunia tidak dapat berharap perdamaian Palestina pada Amerika Serikat. Fahri menyatakan bahwa AS memiliki kepentingan bisnis perdagangan senjata yang terus membawa keuntungan selagi masih ada konflik.

“Kita tidak bisa berharap dari Amerika. Kenapa? Jangankan ada negara yang namanya Palestina, ada perdamaian itu sendiri mereka enggak mau. Kenapa mereka enggak mau ada perdamaian? Karena kalau damai, bisnis mereka berhenti. Kasarnya, kalau saya bikin senjata untuk perang, tapi kalau perangnya enggak ada, kan perusahaan saya bangkrut,” jelas Fahri.

Hal itu ia ungkapkan saat menghadiri sidang “The 2nd Parliamentarians for Al Quds Conference” di Istanbul Turki, Jumat (14/12/2018) lalu. Di antara delegasi Indonesia, hadir Wakil Ketua DPR RI Korpolkam Fadli Zon, Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini, Ketua Kaukus Parlemen Indonesia-Palestina Rofi Munawar, Anggota Fraksi PPP Arsul Sani, dan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan.

Maka dari itu, lanjut Fahri, ketimbang terus menerus berharap dari inisiatif Amerika, tetapi tidak pernah menjadi kenyataan. Sekarang, harus memformat suatu koalisi baru yang dipenuhi oleh negara-negara yang lebih tulus memandang persoalan Palestina ini, sehingga kemerdekaan negera itu setahap demi setahap dapat dilacak, untuk kemudian menjadi bagian dari proses yang lebih maju dari waktu ke waktu.

“Sebab, yang bisa menyelesaikan masalah Palestina ini, ya kita yang tidak ikut membuat masalah. Karena itu, aliansi negara-negara seperti Turki, Indonesia, dimasa-masa yang akan datang itu sangat diperlukan untuk bertindak lebih konkrit bagi kemerdekaan Palestina,” ujar Fahri.

Bahkan, Fahri mengingatkan Pemerintah Indonesia bahwa inisiatif Indonesia pada tingkat global, dan khususnya tentang Palestina itu terlalu dalam. Sebab, dalam konstitusi Indonesia disebutkan bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa.

“Maka haram hukumnya bagi rakyat dan bangsa Indonesia, apalagi para politisnya untuk mengakui para penjajah. Haram hukumnya bagi kita untuk menerima negara Israel, terlebih lagi Bung Karno pernah menyatakan, hutang kita kepada Palestina," beber Fahri.

Pemerintah dan seluruh Bangsa Indonesia, menurut Fahri, harusnya lebih progresif menggalang. Dia contoh pada sekitar tahun 1962 hingga 1963, Bung Karno membuat Ganevo, untuk menentang kehadiran negara-negara penjajah dalam sepakbola.

“Kalau dalam sepakbola saja, Bung Karno menentang, apalagi dalam politik? Nah itulah keberadaan Indonesia dari dulu," pungkas Fahri.

PDIP: Pembebasan Abu Bakar Ba'asyir tidak politis
PAN dukung pemerintah soal penundaan pembebasan Ba'asyir
MenpanRB akan pecat 300 PNS
GRANAT serukan Pemilu damai bebas Narkoba
Lebih dari 1000 PNS korupsi belum dipecat, ada apa?
Fahri Hamzah minta pemerintah tuntaskan hak keluarga korban kecelakaan Lion Air
Fadli Zon ragukan Najwa Shihab dan Tommy Tjokro jadi moderator debat
Kubu Jokowi curigai hasil survei Median
Calon pemimpin penyebar hoaks jangan dipilih
PKS harap pemerintah tak politisasi pembebasan Abu Bakar Ba'asyir
Fadli Zon optimistis Prabowo lampaui elektabilitas Jokowi
Bamsoet imbau TNI-Polri netral dalam pemilu
IHSG siap melaju naik karena sentimen eksternal
DPR apresiasi mundurnya Edy dari ketua umum PSSI
Ahok bebas, apa pengaruhnya pada Pilpres?
Fetching news ...