News Law

Penyebab korupsi menurut ahli filsafat Islam

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Penyebab korupsi menurut ahli filsafat Islam

Korupsi di Indonesia hampir terjadi di semua lini: eksekutif, yudikatif, legislatif hingga lembaga pendidikan. Orang pun menjadi bertanya-tanya, apa sebenarnya yang melatari seseorang untuk memilih laku korup ketimbang menempuh jalan yang lurus dalam hidup.

Ahli filsafat Islam, Dr. Kholid al-Walid mengatakan bahwa banyak faktor yang mendasari korupsi. Namun, dia mengatakan korupsi erat kaitannya dengan hilangnya keinginan orang untuk hidup sederhana. 
Jadi, hal ini berarti jika sudah kaya, orang tidak otomatis akan korupsi. Menurutnya, kekayaan duniawi itu seperti air asin yang jika diminum, tidak akan memuaskan dahaga.

“Kenyataannya kita melihat bahwa yang Korup di negeri ini justru mereka yang sudah memiliki kekayaan luar biasa dengan gaji yang tinggi dan fasilitas yang di atas memadai. Korupsi terkait mental yang memang rusak dan tidak lagi melihat nilai-nilai kesederhanaan sebagai nilai yang harus diagungkan,” katanya di Jakarta, kemarin.

Menurut ketua Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra ini, ada teladan yang salah yang sering dipertontonkan ke publik. Misalnya, tokoh politik maupun agamawan, apalagi sinetron, yang menampilkan diri dengan mengedepankan kesuksesan yang dibandingkan lurus dengan beragam kepemilikian dan fasilitas mewah. 

Kholid menilai tokoh agama, khususnya, seharusnya menjadi teladan paling depan dalam kesederhanaan, bukannya tampil dengan beragam aksesoris dan atribut yang wah. Hal ini akan membuat orang mengejar kemewahan dengan menafikan cara-cara yang baik demi meneladani mereka.

“Mobil-mobil yang mereka gunakan dengan beragam alasan biasanya hanya mampu dibeli oleh para pengusaha kaya,” ingatnya.

Selanjutnya, sistem demokrasi liberal yang menuntut biaya politik yang mahal juga menjadi penyebab politisi harus memutar otak untuk mencari uang lebih.

“Sebagian besar, kalau tidak bisa dikatakan hampir semua, mengalami kondisi ini, sehingga mencari investor dengan segala kesepakatannya, dengan pikiran yang penting jadi dulu,” ujarnya.

Diceritakan Kholid, bahkan ada politisi yang harus sering menutup rumahnya demi menghindari orang-orang yang meminta uang dengan menawarkan raupan suara.

“Jadi, jangan heran kalau setelah berkuasa kemudian jadi santapan empuk KPK,” katanya.

Untuk mencegah korupsi yang sudah mengakar, Kholid mengaku pendekatannya tidak bisa sederhana, diperlukan banyak cara.

“Setiap kepala yang hadir dalam diskusi kecil kami menawarkan beragam teori mulai dari yang umum seperti pendidikan hingga pada tingkat paling ekstrem,” jelasnya.

Akan tetapi, menurutnya, sebagai akademisi, dia mengajak para intelektual untuk memberikan keteladanan demi mengubah keadaan.

“Dalam kondisi seperti itu saya terlintas perkataan Ali Syariati, ‘Intelektual harus menjadi 'Nabi-nabi Sosial' untuk mengubah keadaan," pungkasnya.

PDIP: Pembebasan Abu Bakar Ba'asyir tidak politis
PAN dukung pemerintah soal penundaan pembebasan Ba'asyir
MenpanRB akan pecat 300 PNS
GRANAT serukan Pemilu damai bebas Narkoba
Lebih dari 1000 PNS korupsi belum dipecat, ada apa?
Fahri Hamzah minta pemerintah tuntaskan hak keluarga korban kecelakaan Lion Air
Fadli Zon ragukan Najwa Shihab dan Tommy Tjokro jadi moderator debat
Kubu Jokowi curigai hasil survei Median
Calon pemimpin penyebar hoaks jangan dipilih
PKS harap pemerintah tak politisasi pembebasan Abu Bakar Ba'asyir
Fadli Zon optimistis Prabowo lampaui elektabilitas Jokowi
Bamsoet imbau TNI-Polri netral dalam pemilu
IHSG siap melaju naik karena sentimen eksternal
DPR apresiasi mundurnya Edy dari ketua umum PSSI
Ahok bebas, apa pengaruhnya pada Pilpres?
Fetching news ...