News Law

Legislator minta dalang pembakaran satu keluarga dihukum mati

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Legislator minta dalang pembakaran satu keluarga dihukum mati

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Erma Suryani Ranik mendesak pihak Kepolisian untuk menangkap dan menghukum seberat-beratnya seluruh pelaku pembakaran satu keluarga oleh kartel narkoba di Makassar, Sulawesi Selatan. Bahkan, politisi Partai Demokrat itu meminta aparat penegak hukum untuk menghukum mati otak pelaku.

“Khusus bagi otak pelaku pembakaran yang kini sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) agar diberikan pemberatan hukuman yang maksimal. Bahkan jika perlu harus dituntut hukuman mati,” kata Erma di Jakarta, Selasa (14/08/2018).

“Apa salahnya keluarga korban? Beberapa anggota keluarga tersebut yang tidak berdosa, tidak mengerti apa-apa ikut jadi korban. Perbuatan ini jika dibiarkan kita bisa seperti kartel narkoba di Meksiko atau Elsavador. Bandar narkoba menguasai jalanan, dan dengan mudahnya dari balik jeruji besi memerintahkan pembunuhan. Ini harus diutus tuntas,” lanjut Erma.

Pembakaran satu keluarga hidup-hidup

Kartel narkoba membakar 1 keluarga hidup-hidup di Makassar. Otak pelaku diduga berada di dalam penjara, yang bernama Daeng Ampuh.

Daeng Ampuh sendiri ditahan di Lapas Makassar untuk kasus pembunuhan/penganiayaan yang menyebabkan kematian. Meskipun di dalam penjara, pengaruhnya tetap mencengkeram anak buahnya.

Pembakaran terjadi yang terjadi pada 6 Agustus tersebut menewaskan 6 orang, yakni pasangan suami-istri Sanusi (70) dan Bondeng (65), anaknya, Musdalifa (30), Fahri (24), dan Namira (24), serta cucunya, Hijas, yang masih berusia 2,5 tahun.

Berdasarkan laporan polisi, korban Fahri (24), cucu Haji Sanusi (70), memiliki utang narkotika kepada salah seorang bandar narkoba bernama Daeng Ampuh.

Pada Sabtu 4 Agustus 2018, Fahri dikeroyok oleh sekelompok pemuda yang terdiri atas Riswan, Ollong, Wandi, Said, dan Ambang. Awalnya, Riswan menerima telepon dari kakaknya, Iwan Lili, yang mendekam di penjara untuk menagih utang ke Fahri. Mereka kemudian mencegat Fahri di Jalan Barukang dan memukulnya.

Setelah dianiaya, Fahri kemudian meminta pemukulnya ke rumah kakeknya, Haji Sanusi. Namun, sesampai di sana, Fahri kemudian lari masuk ke rumah dan mengunci pagar serta pintu rumah.

Atas kejadian ini, ayah Fahri, Amiruddin, keluar dan berjanji akan membayar utang anaknya itu. Utang Fahri ke Iwan Lili sebesar Rp 1 juta yang merupakan hasil penjualan sabu-sabu.

Di saat bersamaan, datang lagi pemuda lain yang mengaku berasal dari utusan Daeng Ampuh, yang juga ingin menagih utang dari Fahri terkait narkoba. Utang Fahri di Daeng Ampuh berjumlah Rp 9 juta.

Pada 5 Agustus 2018, Daeng Ampuh menelpon Andi Muhammad Ilham dari selnya di Lapas Makassar yang mengabarkan bahwa Fahri akan melarikan diri ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Daeng Ampuh memerintahkan Andi Muhammad Ilham untuk membunuh Fahri.

Pada Senin 6 Agustus 2018, Andi Muhammad Ilham bersama rekannya, Ramma, membakar rumah Haji Sanusi, yang merupakan kakek Fahri. Atas kejadian ini, 6 orang tewas terbakar di dalam rumah, yaitu pasangan suami-istri Sanusi (70) dan Bondeng (65), anaknya, Musdalifa (30), Fahri (24), dan Namira (24), serta cucunya, Hijas, yang masih berusia 2,5 tahun.

Pada Minggu, 12 Agustus 2018, Polisi menangkap para pelaku pengeroyokan, yaitu: Wandi, Riswan, dan Chadiri. Adapun untuk kasus pembakaran: Andi M Ilham, Daeng Ampuh, dan Apang (DPO).

Jokowi sampaikan data tak akurat, TKN tak ingin dibilang mencontek
Jokowi dikabarkan pakai earpiace saat debat, Kubu Prabowo: Jangan mudah terprovokasi
Warga Papua desak KPK setop kriminalisasi Lukas Enembe
BPN: Rakyat yang akan membantah kesalahan data Jokowi
Pengamat: Jokowi sampaikan data kurang akurat,Prabowo kurang tajam
Prabowo: Pembangunan infrastruktur era Jokowi grasa-grusu
Prabowo bingung saat ditanya Jokowi soal unicorn, ini penjelasannya
Jokowi dituding pakai alat bantu komunikasi saat debat, ini kata TKN
Prabowo nilai serangan Jokowi soal kepemilikan tanah wajar
TKN: Prabowo bingung jawab pertanyaan, Jokowi rileks
Soal Freeport, Jokowi tak takut pada siapapun demi rakyat
Jokowi bantah serang Prabowo terkait ratusan ribu hektar lahan
Prabowo akan pisahkan kementerian lingkungan hidup dan kehutanan bila jadi presiden
KGI Sekuritas: IHSG berpotensi menguat
Ada ledakan di arena debat capres, polisi lakukan penyelidikan
Fetching news ...