Obral mitos untuk rebut simpati publik

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Obral mitos untuk rebut simpati publik

Belakangan ini, tampak ada upaya-upaya sistemik yang dicuatkan dengan menggelorakan kembali mitos-mitos politik guna merebut simpati publik.

Mitos-mitos tersebut sengaja diciptakan untuk mengesankan bahwa negeri ini sedang berada dalam situasi darurat, tidak aman dan mencekam. Oleh karena itu, kejadian ini membutuhkan penanganan serius dengan menghadirkan seorang pemimpin yang ditengarahi bisa mengatasi persoalan-persoalan yang sedang terjadi.

“Mitos-mitos itu antara lain, tentang bangkitnya PKI, atau menjadikan agama sebagai alat untuk mengoyak emosi massa; mereka membuat keonaran di tempat-tempat ibadah, membunuh dan melukai para tokoh agama,” kata pengamat sosial-politik Mohammad Shofan kepada redaksi, Senin (12/02/2018), mengomentari serangan di Gereja St Lidwina, Sleman, Yogyakarta, kemarin.

Menurut Shofan, orang yang terbiasa hidup dalam alam mitos lebih disebabkan oleh ketidakmampuannya dalam menangani realitas yang dihadapi. Akan tetapi, dia optimistis bahwa cara-cara keji seperti itu akan dikalahkan.

“Namun, citra-citra negatif yang dengan sengaja dilakukan dengan tujuan untuk meninggikan nafsu berkuasa kelompok tertentu, akan terus berguguran. Ini sudah terbukti,” tegasnya.

Shofan mengingatkan, bahwa setakat ini ada banyak sekali orang mengaku beragama, namun kehilangan Tuhannya. Orang beriman kehilangan kesalehannya. Mereka adalah orang-orang yang menempatkan agama pada tempat yang tidak semustinya. Sehingga, agama kehilangan fungsinya sebagai sistem nilai yang sejatinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Kehilangan Tuhan dalam beragama adalah sebuah malapetaka besar. Tuhan adalah kehidupan, kebenaran, cinta, bela rasa, kebajikan, pengertian, komitmen, penghormatan serta penghargaan kepada semua makhluk hidup. Melihat Tuhan adalah melihat keanekaan, keragaman, kemajemukan, sebagai karya sang Maha Agung,” katanya.

“Jika agama yang Anda yakini menghalangi keyakinan orang lain serta memperbesar rasa tidak aman di kalangan umat beragama, maka Anda perlu memeriksa kembali agama yang Anda yakini. Sebab, boleh jadi kerinduan Anda untuk mendapatkan pengertian yang lebih bermakna mengenai Tuhan, belum Anda temukan,” sambungnya.

Penyerangan terhadap gereja

Seorang pria membawa samurai masuk ke dalam Gereja St Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta pada Ahad pagi, 11 Februari 2018. Pria ini menyerang membabi buta orang-orang yang berada dalam gereja termasuk Romo Edmund Prier SJ yang tengah memimpin ibadah Minggu.

Pria yang akhirnya diketahui seorang mahasiswa bernama Suliyono, 23 tahun, ini juga melukai empat orang lainnya. “Umat sedang menyanyi dalam acara kemuliaan, lalu ada seorang membawa pedang dan melukai beberapa orang sebelum berjalan ke altar,” ujar salah satu saksi, Heni.

Seorang saksi lainnya, Danang Jaya, warga Nogotirto, Gamping, Sleman kepada Antara mengatakan peristiwa ini terjadi saat Misa masih berlangsung. Pelaku yang membawa samurai sepanjang satu meter itu langsung mengamuk dan merusak benda-benda yang ada di dalam gereja seperti patung dan perabot lainnya.

Ia mengatakan pelaku kemudian menyerang umat yang ada di dalam gereja, sehingga menimbukan kepanikan di dalam gereja. "Pelaku kemudian mendatangi dan menyerang Romo yang sedang memimpin misa," katanya.

Pelaku yang mengenakan baju hitam dan membawa satu ransel di tangan kanannya terus mengancam jemaah dengan pedang di tangan kirinya. Jemaah mencoba untuk menghentikan aksi Suliyono dengan melempar benda-benda yang ada di gereja. Pelaku berusaha menghindar dari lemparan tersebut dan tetap mengacungkan pedangnya.

Pelaku masuk dari pintu gereja bagian barat langsung menyerang korban yang bernama Martinus Parmadi Subiantoro. Pelaku masuk ke gedung utama gereja sambil mengayun-ayunkan senjata tajam sehingga para jemaat juga membubarkan diri. Selanjutnya pelaku berlari ke arah koor dan langsung menyerang Romo Prier yang sedang memimpin misa.

Pelaku terus menyerang jemaah yang masih berada di dalam gereja dan mengenai korban bernama Budi Purnomo. Suliyono tetap mengayun-ayunkan senjata tajamnya ke patung Yesus dan patung bunda Maria yang berada di mimbar gereja.

Polisi yang dihubungi kemudian mendatangi Gereja St Lidwina. Saat itu pelaku masih berada di dalam gereja. Polisi mencoba bernegosiasi dengan pelaku supaya menyerahkan diri.

"Beberapa saat kemudian datang polisi berpakaian preman dan langsung meminta pelaku menyerah. Namun karena pelaku tidak mau menyerah maka langsung dilumpuhkan dengan tembakan pada kakinya," kata Danang.

Ia mengatakan meskipun pelaku sudah ditembak kakinya namun tetap berusaha menyerang anggota polisi tersebut. "Petugas polisi tersebut sampai jatuh dan hampir terkena sabetan pedang," katanya.

Setelah dilumpuhkan dengan tembakan, massa yang ada di luar gereja langsung masuk dan menangkap pelaku kemudian beramai-ramai membawanya keluar gereja.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian DIY Ajun Komisaris Besar Yulianto menyatakan, korban berjumlah 5 orang dan sedang dirawat di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada. Menurut Yulianto, walaupun kejadian tersebut terjadi di gereja, aksi itu bukan sebuah teror melainkan kasus penganiayaan. “Kalau teror kan pake bom. Ini orang bacok jadi termasuk kasus penganiayaan,” tutur Yulianto.

Penyebab korupsi menurut ahli filsafat Islam
Tanggapi #Sandiwara Uno, PAN: TKN sebaiknya fokus pada kebijakan dan program
Fahri Hamzah setuju pembentukan Pansus KTP elektronik
PDI: BPN pindah ke Jateng justru membangunkan banteng tidur
Sandi dituding playing victim, BPN: Jangan langsung tuduh
Fitnah Jokowi PKI, BPN minta La Nyalla diproses polisi
Momen kampanye, pengamat ragu DPR segera revisi UU perkawinan
PDIP minta Anies siaga hadapi bencana
Aktivis tunggu Prabowo minta maaf ke umat Islam
Legislator harap Saudi kabulkan usulan jalur cepat haji
Cina langgar HAM etnis mayoritas muslim, ini kata DPR
PDIP: Sandiaga tak usah playing victim
Saham AS dan Eropa ditutup lebih rendah
Masyarakat Riau diminta waspadai demo pesanan korporasi asing
DPR dukung putusan MK soal usia minimal menikah
Fetching news ...