Daging Kurban Jadi Bancakan Panitia: Apa Jadinya?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Daging Kurban Jadi Bancakan Panitia: Apa Jadinya? Ilustrasi

Pada setiap perayaan Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban, ada satu hal yang patut dicermati, yakni pelaksanaan ritual penyembelihan dan pembagian daging hewan kurban.

Panitia selalu mengumumkan berapa jumlah hewan kurban yang masuk untuk ditangani, mulai dari pemberian makan, penyembelihan hingga distribusinya. Namun, biasanya mereka luput melakukan pelaporan berapa bagian yang dikonsumsi oleh panitia sendiri.

Meski yang mengelola distribusi daging, panitia tak boleh seenaknya mengambil bagian untuk dirinya dan orang-orang tertentu yang dikehendakinya. Sebab, hewan yang diserahkan ke mereka adalah amanah untuk didistribusikan kepada yang berhak, bukan untuk bancakan panitia.

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia tetapkanlah secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. an-Nisa’, 4: 58)

Mudah kita temui, seorang berkaos panitia kurban tiba-tiba memberikan potongan jeroan ke seorang anak untuk dibawa pulang. Tak lama kemudian datang anaknya yang lain, diberikannya tulang iga. Lalu datang lagi istrinya, diberikanlah kepala dan kaki kambing.

Itu masih belum cukup, ketika pulang dia masih membawa beberapa bungkus daging pilihan. Hal ini di luar bagian yang merupakan pesanan teman-temannya.

Harus ada aturan

Bahwa panitia mengambil bagian sebagai “upah” kerjanya adalah wajar. Namun, ini harus diatur dengan saksama. Pasalnya, daging kurban adalah amanah yang pembagiannya harus didahulukan para fakir dan miskin.

Jika di sebuah daerah dihuni orang-orang mampu, hewan disembelih secukupnya dan sisanya didistribusikan ke daerah lain yang miskin. Kurban harus dimaknai sebagai kesadaran untuk berbagi, mengukuhkan persatuan, dan memberikan kesempatan para fakir untuk menikmati asupan protein hewani. Harus diingat bahwa kurban tak semata-mata sebuah pesta-pora.

Supaya amanah, jujur dan adil, jatah daging untuk panitia harus ditentukan dan masyarakat umum harus diijinkan mengetahuinya. Apa saja yang pembiayaannya diambil dari masyarakat, harus bisa dipertanggungjawabkan pelaporannya dan khalayak umum harus dimudahkan memperoleh akses untuk mengetahuinya.

Untuk kasus pemotongan dan distribusi daging kurban, tenaga panitia yang memotong, menguliti dan membagi daging bisa disamakan dengan tukang jagal profesional.

Jika dalam sehari orang yang bekerja di bidang sejenis dibayar, sebut saja, Rp. 100 ribu/hari, panitia kurban sebaiknya diberikan hak sebesar itu pula. Lalu, karena yang diurus adalah daging, mereka boleh mengambil daging/tulang sebesar nominal tersebut.

Jika dipotong biaya kaos dan konsumsi, misalnya Rp50 ribu, hak panitia kira-kira “hanya” setengah kilogram daging (jika harga daging Rp100/kg). Jadi, atas dasar apa mereka mengambil bagian daging semau-maunya?

Tak hanya sebuah bentuk korupsi, mengambil daging seenaknya dapat mengundang beragam madharat lain. Pertama, si papa dapat cemburu dan yang lain melongo karena mereka mendapat bagian tas hitam kecil, sementara panitia kesulitan menenteng daging terbaik dalam tas kresek besar warna merah.

Kedua, perilaku tersebut hanya memberikan contoh betapa merajalelanya keserakahan. Ketiga, tindakan tersebut mengajarkan eksklusivitas dalam bekerja dan elitis. Idealnya, pelaksanaan kurban adalah ibadah kolektif, sebuah panggilan kerja bakti setiap Muslim yang mampu (laiknya bersih-bersih got/kuburan di kampung), bukan hanya orang yang mendapat kaos panitia lalu pulang membawa daging tanpa aturan.

Terakhir, cara panitia tak terkendali mengambil jatah daging sama sekali tidak memberikan contoh dalam hal kerelawanan; seolah-olah melakukan apa pun harus ada bayarannya. Karena kurban adalah ibadah, alangkah baiknya hal-hal terkait pun harus dilaksanakan dengan niat beribadah.

Ingatlah dalam banyak kesempatan, selalu ada peluang untuk korupsi. Panitia harus mengedepankan jiwa kerelawanan dalam bekerja, demi mengejar pahala di akhirat. Wallahu a’lam.

 AS bekukan aset 4 komandan Myanmar terkait pembantaian etnis Rohingya
Banjir hadiah untuk bocah NTT pemanjat tiang bendera
Menkumham hemat Rp118 miliar dari pemberian remisi
Jangan khianati perjuangan pendiri bangsa
Kemeja \
3 kisah tragis pendiri Indonesia di akhir hidupnya
PDIP optimistis Farhat Abas jadi jubir yang baik
Alasan Sekjen PDIP sering nyinyir terkait mahar 1 Triliun
4 sejarah tradisi perayaan HUT RI ini ternyata punya kisah menarik
7 pengetahuan tentang seks yang perlu diketahui sebelum menikah
Menggelorakan semangat pahlawan di dada anak bangsa
Integritas Jokowi diragukan usai tunduk pada ancaman Ma'ruf Amin
Mengintip sekolah fashion muslim pertama di Indonesia
Tanda haji yang diterima Allah
5 bank besar jadi korban sekte penghapus utang
Fetching news ...