Dandan menor dan kecemasan

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Dandan menor dan kecemasan "Seorang pria yang kadang-kadang terpesona ketika melihat seliweran perempuan cantik itu wajar; yang tidak wajar adalah ketika ada seliweran pikiran untuk berselingkuh. Jadi, perselingkuhan (apa pun jenisnya) adalah soal kualitas akal."

Bagi seorang filosof, perempuan yang rajin berdandan dan gandrung ke salon mungkin akan dilihat sebagai monster. Pasalnya, dia dianggap menghisap hak orang miskin dari hartanya—biaya berdandan melupakannya dari sedekah.

Pandangan di atas tentu memiliki landasan, bahkan bukti. Akan tetapi, kita perlu menelusur musabab mengapa perempuan merasa harus berdandan.

“Biar laki gak meleng, dandan, bu!!” ujar seorang penceramah dengan lantang.

Saya yakin sang penceramah tidak sedang menasehati sesuatu yang baru, tetapi dia hanya mengungkapkan gagasan yang sebetulnya sudah ada di dalam imajinasi kolektif para istri. Sebagian istri barangkali mengira bahwa suami mereka berpaling karena ada perempuan lain yang meluruskan alis, menambal pipi dengan bedak, meronakan bibir, dan menggunakan maskara untuk membuat bulu mata nungging seperti ekor kalajengking.

Klambi abang nggo tondo moto//wedak-pupur nggo golek duit (baju merah sebagai cindera mata//bedak untuk mencari uang),” kutipan dari lagu Jawa “Tul Jaenak”. Baris tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan bagaimana para pekerja seks memikat pelacur pria dengan dandanan menor.

“Di dapur harus jadi koki; di kasur harus seperti pelacur,” nasehat kuno yang dituturkan secara turun-temurun kepada perempuan yang hendak menjadi istri, supaya pandai memasak dan lihai berjimak.

Sebelum berbicara lebih lanjut, Anda harus membedakan terlebih dulu antara menjaga kebersihan dan penampilan dengan tingkat kemenoran dalam berdandan. Fokus tulisan ini adalah yang disebut belakangan.

Berbagai bisikan bahwa otak pria yang sangat visual dan seksis sangat mencemaskan perempuan. Perasaan inilah yang menyebabkan mereka merasa harus bersolek. Mereka merasa bahwa mengkamuflase muka dengan make-up bakal efektif mengikat para suami.

“Bukan itu, sih. Gimana, ya,,, mungkin lebih butuh untuk menciptakan hal-hal baru,” kata Cobek (32) yang baru dua tahun menikah.

“Udah kayak temen aja gitu, saya sama istri: dia ke mana, saya ke mana; bebas aja,” ujar Cuplis (43) yang istrinya sangat rajin senam dan menjaga penampilan.

Baik Cobek maupun Cuplis mengatakan demikian setelah saya tanya alasan keduanya selingkuh. Cobek kerap indehoi di rumah bordil, sedangkan Cuplis selain dengan PSK juga menjalin relasi mesra dengan seorang janda.

Jadi, berdasar pada informasi dari kedua pria di atas, kecemasan sebagian wanita bahwa suaminya akan mangkir dengan janji suci kesetiaan karena bedak atau gincu kurang memiliki basis yang kuat. Oleh karena itu, dandan sebagai salah satu solusi untuk mengusir kecemasan suami akan selingkuh pasti kurang efektif. Penyakit akan sukar terobati jika diagnosanya salah.

Musabab suami selingkuh

Perselingkuhan suami memiliki sebab yang biasanya tidak tunggal: ada yang karena tersesat menafsirkan kejantanan, kecanduan seks/cinta/fantasi, menikah dengan tujuan yang salah, istri terlalu sibuk dengan anak, kecewa dengan fisik istri (bau badan atau disfungsi seksual), perbedaan nilai dan cara pandang dengan istri, kebutuhan terhadap pengakuan dan kegirangan, dll.

Perlu Anda ketahui bahwa seorang pria yang kadang-kadang terpesona ketika melihat seliweran perempuan cantik itu wajar; yang tidak wajar adalah ketika ada seliweran pikiran untuk berselingkuh. Jadi, perselingkuhan (apa pun jenisnya) adalah soal kualitas akal.

Cuplis, misalnya, dapat saya katakan telah kehilangan keintiman dengan istri. Indikasi ini tampak dari intensitas hubungannya di ranjang, yakni antara 1-2 bulan sekali. Biasanya, pasangan yang kehilangan keharmonisan di ranjang lebih sering disebabkan oleh ketidakmampuan suami membuat istri merasakan orgasme. Akibatnya, pihak istri malas-malasan jika harus berhubungan bahkan kehilangan kata-kata untuk memuji kejantanan suami, dan ini tentu saja memiliki efek lanjutan yang dapat merusak kemesraan.

Kebanyakan pria sampai usia berapa pun selalu membutuhkan penegasan kejantanan. Mitos yang selalu ditebar hingga hari ini adalah bahwa keperkasaan pria erat kaitannya dengan ukuran penis. Mempercayai ini pasti hanya mengundang apes, terutama bagi Cuplis yang, menurut pengakuannya, berpenis kecil.

Sementara itu, Cobek dan istri memiliki intensitas hubungan ranjang yang normal. Istrinya adalah ibu rumah tangga yang mengurusi bayi mereka yang baru berusia belasan bulan. Cobek kemungkinan mengalami gagap perubahan sistem yang tidak dia siapkan, dari pernikahan ke keluarga. Cobek merasa membutuhkan kegirangan yang dipicu dengan cara berhubungan dengan pelacur.

Pada kasus di atas, Cobek dan Cuplis sama-sama tahu bahwa perselingkuhan yang dilakukannya dilarang oleh agamanya. Mereka paham betul, bahkan Cobek adalah alumni sekolah asrama (SMP-SMA) berbasis agama. Akan tetapi, pengetahuan mereka tentang agama rupanya tak bekerja sebagaimana mustinya.

Jadi bagaimana biar suami tak selingkuh?

Selingkuh atau tidak adalah keputusan yang sepenuhnya ada di tangan suami. Anda, para istri dan siapa pun, akan selalu kesulitan mengubah perilaku orang lain; terlalu berharap orang lain berubah hanya akan memelihara lara.

Yang dapat Anda lakukan adalah membantu memfasilitasi suami untuk mengembalikan akal sehatnya. Caranya tentu saja beragam. Jika Anda tanyakan perkara ini ke guru agama, kemungkinan dia akan menyarankan Anda untuk mengajak suami mengikuti pengajian. Jika Anda tanyakan ini ke motivator, kemungkinan Anda akan disarankan mengikuti pelatihan hipnomarriage, hipnocouple dan hipno-hipno yang lain. Atau, Anda mau sekalian menghilangkan akal sehatnya plus akal sehat Anda dengan membawa persoalan ini ke dukun (ahli solusi dengan ilusi), dan Anda akan dikasih mantra jaran goyang, puter giling, pelet kembang kantil, asmaragama, kalajengking wulung atau semar mesem.

Solusi di atas pasti bukan hal baru bagi Anda, sebagaimana dandan sebagai solusi supaya suami tidak berpaling. Jika tidak mau mengikuti salah satu solusi di atas, masih banyak cara lain, salah satunya adalah melibatkan suami ke dalam pekerjaan domestik.

Baik Cobek maupun Cuplis bukan tipikal suami yang ramah dengan ranah domestik. Mereka berdua adalah tipe suami yang menganggap mencuci, mengurus anak, bersih-bersih rumah, dan memasak adalah tugas istri. Tipe suami yang jauh dari pekerjaan domestik biasanya memiliki peluang lebih besar untuk selingkuh.

Saya mencermati suami yang bekerjasama dengan istri dalam melakukan tugas-tugas domestik memiliki hubungan yang saling menghargai dan adil. Patut diingat bahwa perselingkuhan adalah bentuk pelanggaran prinsip penghormatan dan keadilan (baik terhadap diri sendiri maupun pasangan).

Jika tertarik dengan gagasan ini, Anda yang baru akan menikah atau pengantin baru akan lebih mudah untuk membuat komitmen dengan pasangan ketimbang Anda yang sudah bertahun-tahun menikah seperti Cuplis. Anda mungkin memiliki tanyaan lanjutan: bagaimana membuat suami mau mengerjakan pekerjaan rumah? Untuk tanyaan terakhir ini, Anda dapat mencari tip-tipnya di internet.

Mengenal Hikmah Puasa Pada Bulan Ramadhan
Harga dan stok sembako terkendali jelang dan selama Ramadhan
Periksa cawagub Sumut Ijeck, KPK makin galak?
Jangan undang penceramah provokatif
Dirut Telkom dinilai bahayakan kerukunan antaragama
Fetching news ...