Kurang potennya Ma'ruf Amin dan ramalan Jokowi bakal kalah karena sang wakil

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kurang potennya Ma'ruf Amin dan ramalan Jokowi bakal kalah karena sang wakil

Kala peluang cawapres Joko Widodo masih terbuka lebar jelang pendaftaran calon, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sempat berseloroh bahwa jika bukan dia yang menjadi wakil, Jokowi bakal kalah.

"Saya cuma bisa mengingatkan, kalau bukan saya (cawapresnya) dikhawatirkan (Jokowi) bisa kalah," ujar Cak Imin di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Sabtu (5/5/2018).

Saat itu Muhaimin bersaing bersama nama-nama lain, seperti Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy atau Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartato, sebelum bekas wali kota Solo itu menggandeng Ma’ruf Amin di menit-menit akhir.

Akan tetapi, Ma’ruf belum menunjukkan kinerja berarti. Hal ini berdasarkan survei internal mereka. Popularitas Ma’ruf yang rendah di Banten berakibat pada hasil survei pasangan Jokowi-Ma’ruf. Hasil sigi internal menunjukkan pasangan nomor urut satu hanya meraup 39 persen suara responden. Sementara itu, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, mendapat 58,7 persen, dan sisanya tak menjawab.

Banten memang basis pemilih Prabowo. Pada pemilihan presiden 2014, Prabowo, yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa, mengantongi 57,1 persen suara. Adapun Jokowi-Jusuf Kalla dipilih oleh 42,9 persen warga. Dalam pemilihan presiden tahun depan, jumlah pemilihnya 8,1 juta, naik 200 ribu dibanding pemilihan 2014.

Beratnya medan di Banten menjadi bahasan khusus dalam Rapat Kerja Nasional Bravo-5, tim bentukan Luhut Binsar Pandjaitan yang berisi purnawirawan TNI, di Hotel Golden Boutique, Jakarta, pada 8-10 Desember lalu. Dalam pertemuan itu, terungkap daerah-daerah yang masih rawan, yaitu  Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.

Meskipun di Banten kalah, di Jakarta dan Jawa Barat sebenarnya Jokowi-Ma’ruf unggul. Tapi selisihnya tipis. Berdasarkan hasil survei Bravo-5, Jokowi - Ma’ruf menang dengan 54,4 persen suara di Jakarta.

Adapun di Jawa Barat, provinsi dengan pemilih terbanyak, yakni 32 juta, elektabilitasnya hanya 48,3 persen. Bandingkan dengan di Jawa Tengah dan Yogyakarta serta di Jawa Timur. Menurut survei yang sama, di Jawa Tengah dan Yogyakarta, suara Jokowi-Ma’ruf di atas 75 persen, sedangkan di Jawa Timur mencapai 61,8 persen.

Di pihak lain, pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo-Sandiaga Uno terus bergerilya untuk menggerus kemenangan di Provinsi Jawa Tengah sebagai lumbung suara Jokowi dan bakal berpengaruh besar secara nasional.

Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga pun dipindahkan ke Solo, kota kelahiran Jokowi. Lokasinya di daerah Klodran, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, hanya 5 kilometer dari rumah dinas Wali Kota Solo. Bangunan 6.000 meter atau seukuran satu lapangan bola level internasional disiapkan untuk markas, hasil pinjaman satu kader Gerindra.

Perimbangan kekuatan di Jeteng

Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin saat ini didukung oleh sembilan partai. Tapi dua partai pendukung yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo) menjadi partai baru dan tidak ikut dalam Pemilu 2014. Sehingga, total ada tujuh partai pendukung Jokowi - Ma'ruf yang telah memiliki basis suara hingga 2014. Total suara tujuh partai ini di Jawa Tengah adalah 12 juta suara.

Sementara itu, pasangan Prabowo-Sandiaga didukung oleh empat partai saja dengan total 5,36 juta suara. Angka ini tidak mencapai setengah dari kekuatan partai-partai pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. Akan tetapi, KPU Jawa Tengah telah menetapkan 27,43 juta orang, dari sebelumnya 17,36 juta suara, menjadi Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu Presiden pada 17 April 2019. Sehingga, masih ada selisih hingga 10 juta suara mengambang yang bisa beralih ke masing-masing calon.

Ma’ruf kurang poten?

Ma'ruf Amin sepertinya tidak dapat banyak diharapkan dapat mendongkrak suara Jokowi. Hal ini kemudian tampak dari pemakluman Ketua Umum PPP dan PKB yang baru-baru ini menyatakan bahwa dia cuma diplot sebagai benteng Jokowi dari tuduhan anti-Islam. 

Hal tersebut diungkapkan baik Romahurmuzy maupun Muhaimin kala menjawab tanyaan kurang potennya Ma’ruf Amin dalam berkampanye, yang selain karena faktor usia juga tingkat efektivitasnya dalam menggaet suara baru.

Namun, Muhaimin di hadapan Jokowi menjanjikan 25 juta suara PKB. Akan tetapi, suara ini bisa jadi memang sebelumnya adalah pendukung Jokowi pada 2014. Jadi, dari sisi wakil, Ma’ruf tak menyumbang apa pun, berbeda dari Jusuf Kalla pada 2014 yang mengamankan suara di Indonesia Timur.

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf meskipun unggul terlihat stagnan menurut hasil survei Lingkaran Survei Indonesia dua pekan laku. Elektabilitas mereka mencapai 53,2 persen sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 31,2 persen. Angka keterpilihan pasangan nomor 01 itu sama persis seperti September lalu.

Sementara itu, lembaga survei PARA Syndicate mencatat elektabilitas Prabowo-Sandiaga terus naik meski tipis dan pasangan Jokowi-Ma'ruf justru stagnan meski unggul.

Bagi Jokowi, elektabilitas 53,2 persen tentu belum aman, terlebih potensi golput yang tinggi. Pada Pileg 2014 angka partisipasi masyarakat hanya mencapai 75,11 persen, sedangkan pada Pilpres 69,58 persen. Bagaimana jika pemilih Prabowo-Sandi kompak mendatangi TPS, sedangkan pemilih Jokowi-Ma’ruf sibuk pelesir? Kondisi tentu bisa berbalik, dan ramalan Cak Imin di atas bisa terwujud.

PDIP: Pembebasan Abu Bakar Ba'asyir tidak politis
PAN dukung pemerintah soal penundaan pembebasan Ba'asyir
MenpanRB akan pecat 300 PNS
GRANAT serukan Pemilu damai bebas Narkoba
Lebih dari 1000 PNS korupsi belum dipecat, ada apa?
Fahri Hamzah minta pemerintah tuntaskan hak keluarga korban kecelakaan Lion Air
Fadli Zon ragukan Najwa Shihab dan Tommy Tjokro jadi moderator debat
Kubu Jokowi curigai hasil survei Median
Calon pemimpin penyebar hoaks jangan dipilih
PKS harap pemerintah tak politisasi pembebasan Abu Bakar Ba'asyir
Fadli Zon optimistis Prabowo lampaui elektabilitas Jokowi
Bamsoet imbau TNI-Polri netral dalam pemilu
IHSG siap melaju naik karena sentimen eksternal
DPR apresiasi mundurnya Edy dari ketua umum PSSI
Ahok bebas, apa pengaruhnya pada Pilpres?
Fetching news ...